Khadija & 'Aisya World

This blog is dedicated for the woman who becomes Khadija & 'Aisya in my life

Thursday, April 12, 2007

Engkaukah Khadijah itu?

Ketika aku mengenalmu
Asosiasi membawaku kepada sejarah berabad silam

Engkaukah Khadijah itu?*


*) Khadijah Binti Khuwailid, Muslimah Pebisnis yang Sukses

Khadijah Binti Khuwailid lahir pada kira-kira 15 tahun sebelum tahun gajah. Ia berasal dari kalangan bangsawan Quraisy dan nasabnya sangat terjaga.
Khadijah masih satu keturunan dengan Nabi Muhammad SAW, silsilah Muhammad dan Khadijah bertemu pada Qushai. Muhammad adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai, sedangkan Khadijah adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ’Uzza bin Qushai.

Ia besar di kalangan keluarga yang memiliki pencarian hidup sebagai pedagang besar. Maka tak heran jika sejak kecil ia belajar bagaimana cara berbisnis yang baik dan menguntungkan namun tidak melanggar norma dan etika bisnis yang lurus.

Sebelum menikah dengan Muhammad, ia telah dua kali menikah. Yang pertama dengan ’Atieq bin ’Ahid Al Makhzumy, seorang bangsawan Quraisyi. Pernikahan dengan suami pertamanya tidak berlangsung lama karena ’Atieq meninggal dunia dan hanya menurunkan anak bernama Hindun. Khadijah kemudian menikah lagi dengan Nabbasy bin Zurarah, seorang bangsawan Quraisyi. Pernikahan ini juga tidak berlangsung lama, karena Nabbasy meninggal dunia dengan meninggalkan seorang putera bernama Halal dan seorang puteri yang juga bernama Hindun. Meskipun Khadijah telah dua kali menikah, telah menjadi janda dan telah memiliki anak, tetapi banyak laki-laki yang meminangnya. Tetapi semua pinangan itu ditolaknya dengan cara yang halus.
Khadijah sempat tidak berminat untuk menikah lagi. Ia memilih mengkonsentrasikan hidupnya untuk membesarkan dan mengurus anak-anak serta bisnisnya yang semakin berkembang.

Selain harta peninggalan dari orangtua yang diwarisinya, peninggalan harta dari para suaminya pun sangat banyak. Karena itulah Khadijah menjadi pebisnis yang sibuk mengelola dan mengembangkan usaha-usahanya yang sudah meluas hingga keluar negeri Makkah.

Sebagai perempuan yang dikenal terjaga akhlak mulianya, sehingga dijuluki sebagai At-Thahiroh-wanita yang suci, Khadijah sangat berhati-hati dalam berbisnis. Ia membangun jaringan bisnisnya dengan modal kepercayaan. Akhlak yang luhur dalam berbisnis ini nyatanya sangat membantunya dalam mengembangkan relasi kerja.

Selain bersikap baik pada relasi bisnisnya, Khadijah pun peduli pada para pekerjanya. Ia sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Dalam hal ini Khadijah menerapkan sistem bagi hasil pada orang-orang yang menjualkan barangnya. Keuntungan yang diperoleh dari hasil berdagangnya dibagi sesuai andil masing-masing, hingga kedua belah pihak merasa puas dengan sistem ini. Akhirnya, usaha Khadijah semakin berkembang, dan pekerjanya semakin banyak.

Salah satu karyawan yang bekerja menjualkan barang dagangan Khadijah adalah Muhammad bin Abdullah. Sejak awal Muhammad sudah dikenal dengan julukan Al-Amin-yang dapat dipercaya, sehingga ketika ia membawa barang dagangan Khadijah pun ia menjadi salah satu karyawan yang sangat terpercaya. Setiap kali Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke luar kota, ia pasti pulang membawa hasil yang memuaskan.

Kemampuan bisnis Muhammad yang bagus, juga ahlaknya yang mulia membuat hati Khadijah tertarik. Meskipun Khadijah menolak pinangan yang sebelumnya banyak diajukan para petinggi Quraisy, hatinya tidak bisa menolak keinginan untuk meminang sang Al Amin. Keinginannya ini pun ia sampaikan pada orang kepercayaannya, Nafisah. Orang kepercayaannya inilah yang kemudian menjadi penghubung pernikahan Khadijah dengan Muhammad. Pada waktu itu Muhammad berusia sekitar 25 tahun, sedangkan Khadijah sekitar 40 tahun.

Kebahagiaan Khadijah menikah dengan Muhammad semakin lengkap dengan hadirnya putera puteri yang meramaikan suasana rumah mereka. Muhammad pun menjadi ayah bagi anak-anak, suami dan partner bisnis yang sempurna bagi kehidupan Khadijah.

Setelah pernikahan dengan Khadijah, Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul penutup. Misi suci ini membuat Rasulullah SAW banyak meninggalkan rumah untuk berdakwah. Otomastis, perannya dalam bisnis pun berkurang. Sebagai istri, Khadijah memahami ini dan mengambil alih seluruh roda perputaran bisnis tersebut, ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk membantu penyebaran islam. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai penyokong dana dakwah terbesar sepanjang zaman.


Source :

  • Sejarah Ringkas Nabi Muhammad SAW, Al Quran dan Terjemahnya
  • Artikel ummigroup

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home